Menanti Bom Waktu Pariwisata di Tengah Pandemi

Menanti Bom Waktu Pariwisata di Tengah Pandemi

Pelatihan Pariwisata – Industri pariwisata mencoba menggeliat di tengah situasi kenormalan baru pada tahun ini. Dengan proyeksi pandemi mereda pada 2021, sektor ini bersiap untuk meledak.

Ada bom waktu yang tersimpan selama masa pandemi Covid-19, yang siap meledak begitu pandemi mengakhiri perjalanannya di muka bumi. Bom waktu ini adalah ledakan jumlah turis yang menyambangi beragam destinasi di sejumlah tempat.

Percikan-percikan bom waktu tersebut sebetulnya sudah terlihat belakangan ini. Meski dilanda pandemi, orangorang tak bisa menahan hasratnya untuk berwisata.

Oleh karena itu, pelaku usaha pariwisata, tak terkecuali agen perjalanan daring (online travel agent/OTA) opmistis mereka bisa bangkit dari keterpurukan dalam waktu singkat pascapandemi Covid-19. Tentunya, kebangkitan tersebut tetap perlu diikuti oleh inovasi atau penyesuaian dari masing-masing OTA.

OTA milik Grup Djarum itu mencatat terjadi peningkatan pemesanan kamar hotel 67% pada kuartal IV/2020 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. Hal yang sama juga berlaku pada transaksi pemesanan tiket pesawat ke sejumlah des nasi wisata domes k yang mengalami kenaikan
56%. “Terjadi juga kenaikan jumlah pengguna pada kuartal IV-2020 dibandingkan dengan kuartal III/2020 sebanyak 32%,” ungkap Gaery.

Bahkan, pada November 2020, menurut Gaery, permintaan pemesanan hotel di berbagai destinasi wisata berhasil memecahkan rekor transaksi bulanan tertinggi
sepanjang 2020. Hotel-hotel yang paling populer terletak di kota-kota wisata favorit, seper Jakarta, Bali, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Kemudian untuk transaksi ket atraksi atau ak vitas rekreasi, Tiket.com mencatatkan kenaikan hingga 172% pada periode yang sama.
Berdasarkan periode liburan, 97% pelanggan membeli tiket wisata untuk awal Desember 2020 dan sisanya liburan tahun baru hingga pertengahan Januari 2021.

Lebih lanjut, Gaery menuturkan, peningkatan transaksi pemesanan kamar hotel, tiket pesawat, dan tiket atraksi wisata tak terjadi begitu saja. Pihaknya melakukan beberapa inovasi untuk menarik minat masyarakat kembali berwisata, salah satunya melalui program pesta diskon.

“Kami juga ikut membantu masyarakat untuk memenuhi persyaratan bepergian yang diminta seper pemberian diskon atau voucer rapid test dan tes swab PCR [polymerase chain reaction] yang bekerja sama dengan pihak maskapai
atau fasilitas kesehatan. Kami juga memas kan penerapan protokol kesehatan di hotel atau atraksi wisata,” tuturnya.

Selain itu, yang tak kalah penting adalah menyesuaikan produk dengan preferensi atau permintaan masyarakat. Menurut Gaery, saat ini masyarakat lebih memilih untuk berwisata bersama keluarga atau dalam kelompok kecil
serta mencari akomodasi yang sifatnya privat.

Gaery meyakini betul bahwa industri pariwisata akan kembali bergairah pada 2021. Pasalnya, pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak Maret 2020 di Indonesia membuat banyak orang bosan dan membutuhkan berbagai aktivitas menyenangkan di luar rumah untuk menyegarkan pikiran mereka.

“Sekarang saja, walaupun ada persyaratan rapid test antigen, banyak yang bersedia mengeluarkan biaya tambahan. Memang ada yang membatalkan atau refund tetapi jumlahnya tak terlalu signifi kan. Tandanya masyarakat sudah keburu ingin berlibur,” tutupnya.

Dari kacamata perbankan, PT Bank Central Asia (BCA) Tbk. mencatatkan transaksi terkait ak vitas pariwisata pada kuartal-IV 2020 mengalami peningkatan signifi kan dibandingkan dengan kuartal sebelumnya. EVP Transaction Banking Business Development BCA I Ketut Alam Wangsawijaya menyebut transaksi daring maupun luring dengan kategori travel mengalami peningkatan hingga 15% pada kuartal-IV dibandingkan dengan kuartal III/2020.

Menurutnya, peningkatan tersebut menandakan rebound atau kebangkitan dari industri pariwisata setelah sebelumnya sempat terpuruk saat awal pandemi Covid-19
melanda Tanah Air.

“Bukan hal yang begitu mengejutkan karena berwisata memang sudah menjadi kebutuhan masyarakat termasuk nasabah BCA. Pandemi Covid-19 ini seperti puasa berwisata yang nan nya akan ada akhirnya,” ujarnya.

Oleh sebab itu, Ketut optimistis pada 2021 transaksi kategori travel akan mengalami peningkatan signifi kan. Walaupun demikian, angka transaksi secara keseluruhan belum akan kembali seperti saat sebelum pandemi Covid-19 melanda.

“Bisa jadi kembali ke [angka transaksi] normal, tetapi tidak dalam waktu dekat. Karena sementara ini kapasitas akan dikurangi untuk meminimalisasi penyebaran virus.Tetapi setidaknya bisa dalam waktu dekat 60% dari [transaksi] dalam kondisi normal.”

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia (Indonesian e-Commerce Associa on/IdEA) Bima Laga menilai VHO (virtual hotel operator) dan OTA pada dasarnya masih punya potensi untuk tumbuh di tengah kondisi seperti saat ini. Bahkan, keduanya diprediksi akan tumbuh pesat mengalahkan startup dari sektor usaha lainnya.

Pasalnya, aktivitas rekreasi akan dicari oleh banyak orang tak lama setelah pandemi mereda atau benar-benar berakhir. “Orang karena sudah bosan di rumah. Berdasarkan survei, pertama adalah makan di rumah, keduanya adalah staycation, [kemudian] berwisata ke tempat yang sekiranya aman,” tuturnya.

Walaupun demikian, menurut Bima, baik VHO maupun OTA perlu berinovasi dan hal yang tak bisa diabaikan adalah meyakinkan masyarakat bahwa apa yang mereka tawarkan benar-benar aman. Pasalnya tak dapat dipungkiri jika masih ada kekhawatiran di tengah masyarakat untuk keluar rumah dan berekreasi pada masa pandemi ini.

“Inovasinya penting, bagaimana mereka mengemas produknya. Untuk saat ini, selain meyakinkan [penerapan] protokol kesehatan tentunya layanan yang terintegrasi dengan persyaratan [bepergian] seper rapid test itu dibutuhkan,” ungkapnya.

BERDARAH-DARAH

Walaupun begitu, Bima tak menampik bahwa upaya yang harus dilakukan oleh VHO dan OTA untuk bertahan di tengah pandemi begitu berdarah-darah. Salah satu VHO yang juga menyediakan layanan reservasi tiket pesawat bahkan terpaksa gulung kar pada Mei 2020 lantaran tak kuat menanggung beban operasional tanpa diiringi pemasukan.

“Tetapi bukan berarti tak prospektif. Buktinya belum lama ini ada OTA yang berhasil dapat pendanaan, Di tengah pandemi dapat pendanaan berarti prospeknya setelah ini bagus,” ujarnya.

Sementara itu, Managing Director Sequioa Capital India Rajan Anandan menyebut investor dengan tujuan jangka panjang akan lebih ketat dalam evaluasi mereka terhadap industri yang bergantung pada kehadiran fisik atau berfokus pada perjalanan termasuk VHO dan OTA.

“Meskipun ritel offline dan perjalanan domestik mulai memperlihatkan tanda-tanda pemulihan, masih jauh dari saat sebelum pandemi.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *