Menpar: Bangun Pariwisata Idealnya 50:50 dengan Swasta

surfer girlPelatihan Pariwisata -Investasi yang diperlukan untuk mengembangkan pariwisata tak sepenuhnya bisa dilakukan oleh pemerintah. Menurut Menteri Pariwisata Arief Yahya, diperlukan dukungan swasta agar hal itu bisa tercapai. “Salah satu tujuan Annual Meeting IMF-WB adalah mendatangkan investasi. Sebab itu Pemerintah sudah memulainya dengan berinvestasi untuk pondasinya. Pembangunan infrastruktur pariwisata tidak bisa sepenuhnya Pemerintah. Idealnya 50:50 dengan swasta,” jelas Arief dalam keterangan tertulis, Jumat (28/9/2018).Ia melanjutkan, pengembangan pariwisata RI hingga 2019 masih membutuhkan investasi sebesar Rp 500 triliun yang dibahas dalam Rakornas Pariwisata III/2018.Meski demikian ia mengatakan investasi tak harus datang dari luar negeri. Untuk itu perlu diupayakan adanya investasi dari dalam negeri. Menurutnya, sumber yang umum adalah pembiayaan yang bersumber dari Usaha Jasa Keuangan/Industri Keuangan Bank (IKB) seperti Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Pariwisata (FLPP) atau Kredit Usaha Rakyat (KUR) pariwisata.

“Ada juga pembiayaan yang bersumber dari Industri Keuangan Non Bank (IKNB). Seperti dari perusahaan asuransi untuk mendukung keselamatan wisatawan selama berlibur, dari lembaga pembiayaan (multifinance), atau dari dana pensiun,” sebut Arief.

Sementara itu di ajang Rakornas III Pariwisata 2018, Arief Yahya mendapatkan pujian dari Kemenko Kemaritiman karena dinilai cerdas dalam memanfaatkan momen untuk mempromosikan pariwisata.

 

“Sampai tahun 2019, sektor pariwisata membutuhkan investasi dan pembiayaan sebesar Rp 500 triliun. Besarnya kebutuhan investasi dan pembiayaan di sektor pariwisata ini kita coba petakan dan bahas dalam Rakornas Pariwisata III/2018,” ungkap dia. Menurut Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Kemaritiman Agus Purwanto, pada ajang Annual Meeting IMF-World Bank pada 2 Oktober mendatang di Bali, bisa menjadi kesempatan dalam menarik investor.

“Bali akan melaksanakan Annual Meeting IMF-WB, banyak membahas ini-itu. Dan di luar ini sebenarnya tidak perlu takut. Peluang kita menjual detinasi, menjual apapun yang kita punya untuk tujuan wisata. Saat IMF-WB berpotensi besar menarik investor untuk berinvestasi di Indonesia,” kata Agus yang mewakili Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan.

Menurut Agus, ajang Annual Meeting IMF-WB akan dihadiri lebih 18 ribu peserta. Ajang ini bisa dimanfaatkan untuk memberikan kepercayaan kepada calon investor.

“Nantinya para delegasi itu melihat sendiri. Dengan demikian kalau trust tersebut terbangun dan investasi akan mengalir,” kata Agus.

Untuk diketahui, pariwisata termasuk dalam 3 besar penghasil devisa untuk Indonesia. Bahkan tahun 2019 ditargetkan menghasilkan devisa USD 20 miliar. Target itu bisa tercapai bila sukses mencapai target kunjungan 20 juta wisman (wisatawan mancanegara) dan pergerakan 275 juta wisnus (wisatawan nusantara).

Untuk mencapai hal itu, diperlukan pembangunan infrastruktur untuk menunjang kedatangan para wisatawan.

“Contoh di Bali, disiapkan peresmian karya anak bangsa yang popular yakni GWK. Tentunya tidak lepas dari traffic jam di Bali. Salah satu upaya kita yakni membuat underpass yang dilakukan dengan tidak meninggalkan keramahan lingkungan,” tuturnya.

“Target 20 juta wisman ini, seperti disampaikan Pak Menko Maritim (Menko Luhut), sudah disiapkan dari infrastruktur, dan sudah mampu menyerap wisman ke depan. Nah, ini baru di Bali, belum sektor lainnya seperti di Weda Bay yang disiapkan infrastruktur. Saya yakin turis semua akan datang ke Indonesia. Dan di seluruh penjuru sektor pariwisata tetap optimis akan hal ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


three × 9 =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>