Wisata Alam di Bogor Jadi Tulang Punggung Perhutani

Curug Cigamea

Curug Cigamea

Meski daya beli masyarakat secara umum rendah, antusiasme atau animo masyarakat terhadap rekreasi tetap tinggi. Akan tetapi, tempat wisata yang dikunjungi umumnya panorama atau wisata alam. Bogor merupakan daerah terdekat dengan Jakarta dan paling banyak memiliki objek wisata alam menarik, dan baru-baru ini menjadi bagian dari gaya hidup kaum urban. Bahkan, sebagian besar tempat wisata alam yang paling banyak dikunjungi itu selain Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) dan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP), justru berada di Kawasan Pemangkuan Hutan Perum Perhutani Bogor Divisi Regional Jawa Barat dan Banten. Menurut Administratur (Kepala) KPH Perum Perhutani Bogor Achmad Basuki, objek wisata alam yang dikelola atau berada di kawasannya, yakni sebanyak 16 titik. Tingginya animo masyarakat sejak dua tahun terakhir ini kemudian oleh pihak Perhutani dijadikan salah satu kontributor atau tulang punggung pendapatan perusahaan.

“Kontribusi pendapatan Perhutani selama ini kan dari hasil hutan kayu. Sekarang dan ke depan wisata alam ini akan dijadikan tulang punggung pendapatan perusahaan. Bagaimanapun, Perhutani itu kan instansi milik pemerintah yang harus menghasilkan pendapatan dari jasa lingkungan,” katanya.

Kendati demikian, pihaknya tetap selalu mengedepankan keberlangsungan keseimbangan alam hutan tetap terjaga. Satu sisi pihaknya harus mengejar target pendapatan dari hasil hutan, baik kayu maupun nonkayu. Namun di sisi lain, harus tetap bisa menjaga manfaat keberadaan hutan itu sendiri, baik untuk masyarakat maupun perusahaan.

Intinya, KPH Perum Perhutani Bogor akan terus menggenjot pendapatan secara berimbang baik dari hasil hutan kayu dan nonkayu,” katanya. Dia mengatakan, saat ini fokus mencari/ menambah penghasilan dari nonkayu itu dimulai sejak 2015, saat animo masyarakat terhadap tempat wisata alam yang ada di Perhutani meningkat.

“Dari 16 objek wisata yang dikelolanya itu, kemudian dibagi menjadi beberapa kategori wisata, dari rintisan, edukasi atau ecotourism , hingga panorama alam seperti air terjun dan banyak lagi. Di situ, kami bangun beberapa spot yang layak untuk berfoto,” katanya.

Menurut dia, tak sulit untuk mengembangkan potensi wisata alam yang sudah ada itu. Jika didukung anggaran dan sumber daya manusia (SDM), pihaknya yakin bisa bersaing dengan daerah atau negara lain.

“Yang jelas, dalam pengembangan wisata ini, kami tetap memperhatikan/ mengedepankan visi dan misi Perhutani itu sendiri. Ada satu misi kami, yakni bermanfaat bagi masyarakat sekitar Lembaga Masyarakat Desa (LMD). Sebelum kami mengembangkan atau membuka sebuah tempat wisata alam, masyarakat sekitar diajak studi banding ke tempat wisata lain yang sudah lebih dulu sukses di Indonesia,” katanya.

Dia juga mencontohkan seperti tempat wisata Panorama Pabangbon, Leuwiliang, sebagian besar yang mengelola itu sumber daya manusia (SDM)-nya adalah LMD.

Mereka sempat diajak ke tempat wisata Maribaya, Bandung. “Kendalanya adalah anggaran, SDM, infrastruktur. Namun, dengan keterbatasan anggaran, kami tetap akan maksimalkan. Sementara untuk SDM atau tenaga kerjanya lebih banyak melibatkan masyarakat sekitar. Kalau untuk infrastruktur, kami mengharapkan stakeholder dalam hal ini pemerintah terkait. Sebab, dalam mengembangkan wisata itu yang terpenting adalah akses jalan, karena itu kami sangat mengharapkan kerja sama pemerintah daerah,” katanya.

Secara kawasan memang tempat wisata tersebut milik Perhutani, tapi untuk manajerial, pihaknya bekerja sama atau banyak melibatkan LMDA (masyarakat desa). “Tapi, kami tetap menyediakan fasilitas operasionalnya, kemudian kami juga mendukung mereka untuk mengembangkan kreativitasnya dalam membangun spot wisata alam,” ungkapnya.

Dari 16 objek wisata di kawasan Perhutani ini, sebagian besar melibatkan masyarakat. Namun, pihaknya juga sedang melakukan penjajakan kerja sama dengan investor dalam mengembangkan ecotourism.“Yang jelas, dalam pengelolaan wisata, kami lebih mengedepankan kerja sama dengan warga sekitar agar perekonomiannya meningkat. Seperti Panorama Pabangbon, Curug Cilame, dan Bukit Cinta itu, semua sedang fokus kami kembangkan sekarang ini,” katanya.

Pihaknya berharap dengan pengembangan objek wisata wilayah Leuwiliang dan Jasinga, itu bisa menjadi alternatif bagi warga Jakarta yang biasa berlibur ke Puncak. Karena selalu terjebak macet, akhirnya mereka memilih datang ke tempat wisata milik Perhutani ini.

“Selain Panorama Pabangbon, di kawasan Bogor wilayah Timur seperti kawasan wisata Cipamingkis, Curug Ciherang, Cibeureum, dan Garunggang, hingga Puncak Kencana, sebetulnya itu masih satu jalur. Itu juga sedang kami kembangkan terus sehingga diharapkan bisa menjadi tempat wisata alternatif selain Puncak,” katanya.

Dia menjelaskan, untuk Citamiang dan Telaga Saat hingga Puncak Kencana, itu diarahkan sebagai tempat wisata khusus, artinya bukan tempat wisata massal. “Karena trek atau jalur menuju tempat wisata dan areanya adalah wisata camping , sepeda gunung dan offroad . Dan, enggak semua masyarakat menyukai atau bisa menikmatinya,” katanya.

Sementara itu, Supervisor Wisata KPH Perum Perhutani Bogor Juju Juhana, hutan wilayah kerja yang dikelola KPH Bogor seluas 69.901,74 hektare (ha). Masing-masing hutan produksi 20.037,36, lindung 30.374,16 ha, konservasi 2.042,90 ha, dan produksi terbatas 17.447,32 ha.

“Rata-rata 16 tempat wisata luas areanya masing-masing sekitar lima hektare yang masuknya dalam pengelolaan sumber daya alam,” katanya. (Haryudi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


× one = 8

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>