100 Hari Pariwisata Indonesia, Sudah Sampai Mana?

Pelatihan Pariwisata  | Jadwal Pelatihan Pariwisata 2015

Bidpesona indonesiaang pariwisata menjadi salah satu program kerja pemerintahan Jokowi yang hari ini genap berusia 100 hari. Apa yang sudah dijanjikan dan apa yang sudah direalisasikan?. Di era pemerintahan Jokowi, pembangunan pariwisata digawangi oleh Arief Yahya. Sebagai menteri pariwisata, dia melanjutkan tongkat estafet dari Mari Elka Pangestu. Tugas dari Jokowi sudah gamblang, mempromosikan Indonesia semaksimal mungkin dan menarik wisatawan mancanegara sebanyak mungkin menjadi 20 juta wisman di tahun 2020.Di luar sana, para pelaku usaha wisata, para operator tur, pengusaha hotel dan objek wisata, para travel blogger, komunitas dan masyarakat sama-sama menunggu, gebrakan apa yang akan dibuat oleh Arief. Atau jangan-jangan, tidak ada gebrakan sama sekali?

Untuk itu kita coba kuliti satu persatu kebijakan yang digulirkan Kemenpar. Yang terpenting, bagaimana progress-nya hari ini. Dihimpun detikTravel, Rabu (28/1/2015) inilah ulasannya:

 1. Bebas visa untuk 5 negara

Salah satu strategi awal yang dicetuskan Arief untuk mendongkrak jumlah wisatawan asing adalah membebaskan visa untuk turis dari 5 negara. 5 Negara itu adalah Tiongkok, Australia, Rusia, Jepang, Korea Selatan. Sebagian masyarakat sempat menduga traveler Indonesia yang bakal bebas visa ke negara tersebut, tapi rupanya bukan.

Kebijakan ini mulai berlaku awal 2015. Tiongkok yang akan duluan bebas visa, diikuti Jepang, Korea Selatan, Rusia dan terakhir Australia. Sementara dari dalam negeri muncul desakan agar kebijakan ini berlaku resiprokal.

Kebijakan bebas visa ini jadi bahasan media di luar negeri seperti Australia, China dan Jepang. Tapi apakah itu serta merta langsung membuat wisatawan datang berbondong-bondong ke Indonesia? Rupanya tidak juga, lagi-lagi wisatawan tetap memiliki yang namanya musim liburan. Baru pada musim panas nanti kita akan tahu apakah kebijakan bebas visa ini sukses atau tidak.

Yang jelas untuk tahun 2015, Kemenpar tidak memasang target muluk-muluk untuk jumlah wisatawan. Dari 9,5 juta wisman, Kemenpar dinilai hanya mencari aman dengan menambah 500 ribu wisatawan saja menjadi 10 juta wisman. Hal ini sungguh disayangkan, melihat negara tetangga melakukan promosi gila-gilaan demi menarik wisman.

 2. Kemudahan izin yacht

Kebijakan lain yang digulirkan Kemenpar adalah kemudahan izin masuk untuk kapal wisata yacht. Ini adalah segmen wisatawan yang selama ini dinilai kurang digarap oleh pemerintah. Kebijakan yang disiapkan Kemenpar adalah mempermudah izin masuk kapal yacht. Yang tadinya 3 minggu menjadi satu hari dengan membuat perizinan online.

Kebijakan perizinan yacht dinilai selaras dengan kebijakan Jokowi yang ingin membangun bidang maritim. Yang kemudian jadi kritikan adalah, kenapa Kemenpar membidik wisatawan yacht? Dari segi kuantitas, jumlah mereka kecil. Tentu ini tidak signifikan untuk menambah jumlah kunjungan wisatawan.

Atas pertanyaan itu, Menpar Arief Yahya mengatakan walaupun jumlah mereka sedikit, wisatawan yacht bisa mendatangkan devisa lebih besar karena mereka membelanjakan uang lebih banyak. Kebijakan ini sudah diwujudkan dengan ditandatanganinya Clearance Approval for Indonesian Territory (CAIT) oleh Presiden Jokowi dan berlaku awal 2015. Menpar membidik 1.500 yacht masuk ke Indonesia. Apakah kapal yacht kini sudah berdatangan ke Indonesia? Lagi-lagi, kita menunggu data dari Kemenpar untuk perkembangan atas kebijakan ini.

 3. Wonderful Indonesia

Salah satu yang digaung-gaungkan di awal kepemimpinan Arief Yahya sebagai Menpar adalah promosi wisata secara digital. Maklum, Arief adalah mantan bos Telkom yang dinilai sangat paham dengan teknologi digital. Promosi digital diyakini lebih efektif dan lebih murah.

Sepanjang 100 hari pemerintahan Kemenpar cukup intens bicara dengan Telkom, mengumpulkan travel blogger, memasang WiFi di Kota Tua Jakarta. Ada juga beberapa aksi kunjungan menteri ke sejumlah tempat, dari mangrove di Jakarta, sampai ke Gunung Padang di Cianjur.

Cukup lama juga publik dibuat menunggu dan penasaran, promosi wisata apa yang disiapkan Kemenpar. Di akhir tahun 2014, Kemenpar pun meluncurkan kampanye Wonderful Indonesia sebagai bentuk promosi wisata secara digital.

Di dalamnya juga termasuk 7 produk e-Tourism atau pariwisata digital, yaitu website atau portal pariwisata yang terintegrasi, mobile application, WOI (Wonderful Indonesia) TV, sinetal (sinema digital) dan sinemol (sinema online), digital photo bank, www.indonesiafilm.net dan Travel Blogger Award 2015. Semoga nanti kampanye ini sungguhan bisa menarik wisman untuk datang ke Tanah Air.

 4. Badan Ekonomi Kreatif

Di era Mari Elka Pangestu, ekonomi kreatif menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pariwisata. Namun, Presiden Jokowi punya pandangan lain. Ekonomi kreatif direncanakan menjadi badan sendiri yang terpisah dengan Kemenpar. Badan Ekonomi Kreatif bertanggung jawab langsung kepada presiden karena memiliki potensi besar untuk kelangsungan hidup rakyat.

Menpar Arief Yahya bolak-balik ke Kementerian PAN. Dia bertemu dengan sejumlah pelaku seni dan perfilman untuk membahas kira-kira bagaimana wujud Badan Ekonomi Kreatif ini.

Akhirnya pada Senin 26 Januari kemarin, Badan Ekonomi Kreatif diresmikan Presiden Jokowi. Triawan Munaf, ayah dari artis Sherina Munaf dilantik sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.