Aceh Hanya Menjadi Tempat Transit

Pelatihan Pariwisata | Diklat Pariwisata -Provinsi Aceh belum menjadi tempat tujuan wisata utama para pelancong domestik dan mancanegara. Hal itu tampak dari menurunnya rata-rata lama menginap wisatawan di sejumlah hotel di Aceh, yakni dari 3-4 hari pada 2012 menjadi berkisar 1-2 hari tahun 2013. Hal itu mengemuka dalam ”Konferensi Pers Mengenai Data Terbaru Badan Pusat Statistik Aceh per Februari 2014”, di Banda Aceh, Senin (3/2/2014).Merujuk Aceh dalam Angka 2013, tingkat kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara meningkat dalam tiga tahun terakhir. Jumlah tamu domestik ke Aceh sebanyak 720.079 orang tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 959.545 orang pada 2011 dan 1.026.800 orang tahun 2012.

Adapun jumlah tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648 orang tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 28.054 orang tahun 2011 dan 28.993 orang pada 2012.

Kepala Badan Pusat Statistik Aceh Hermanto mengatakan, dunia wisata Aceh meningkat dari segi kuantitas wisatawan, tetapi tidak dalam kualitas wisatawannya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh 2013, lama kunjungan wisatawan ke Aceh justru menurun setahun terakhir.

Rata-rata lama menginap tamu domestik di sejumlah hotel di Aceh 1,83 hari per Desember 2012. Angka itu menjadi 1,76 hari per Desember 2013. Adapun rata-rata lama menginap tamu mancanegara di sejumlah hotel di Aceh 3,06 hari per Desember 2012. Angka itu menjadi 1,63 hari per Desember 2013.

Hermanto mengatakan, seharusnya pemerintah setempat berupaya meningkatkan kualitas wisatawan agar tidak sebatas melihat Aceh. Para wisatawan harus dipacu tinggal dalam waktu lama di Aceh. ”Semakin lama mereka di Aceh, semakin banyak uang yang berputar di sini. Itu akan berdampak nyata bagi perekonomian Aceh, terutama bagi masyarakat di sekitar tempat wisata,” ujarnya.

Anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Cabang Aceh, Nurhadi, menyadari, Aceh masih sebatas menjadi tempat transit bagi para wisatawan, terutama dari Eropa. Umumnya, tujuan utama wisatawan adalah Sumatera Utara.

Nurhadi mengatakan, pemerintah setempat harus berbenah agar wisatawan domestik dan mancanegara tertarik menjadikan Aceh sebagai tujuan wisata utamanya. Tidak hanya gencar promosi, pemerintah pun harus meningkatkan infrastruktur terkait akses transportasi, jalur transportasi, dan fasilitas penunjang di tempat-tempat wisata.

”Selain itu, pemerintah juga perlu rutin menyelenggarakan acara ataupun festival. Dengan begitu, wisatawan bisa turut beraktivitas sehingga tidak bosan selama di sini,” ujarnya.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Adami Umar mengatakan, saat ini memang pihaknya fokus mengundang wisatawan datang sebanyak-banyaknya ke Aceh. ”Kami pun berupaya berkoordinasi dengan sejumlah instansi agar meningkatkan sarana dan prasarana, misalnya membuka akses transportasi, meningkatkan kualitas jalur transportasi, dan memicu iklim ekonomi kreatif di tempat-tempat wisata,” katanya.

Di sisi lain, agenda acara ataupun festival yang dapat memicu wisatawan berdatangan terus digalakkan dalam empat tahun terakhir. Berdasarkan data Bidang Pemasaran Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, ada 21 acara ataupun festival yang diselenggarakan sepanjang 2011. Jumlah itu terus bertambah menjadi 25 acara pada 2012, 27 acara tahun 2013, dan direncanakan sekitar 30 acara pada 2014.

Pembenahan infrastruktur pariwisata juga perlu dilakukan di obyek wisata Danau Tahai di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Obyek wisata itu terbengkalai karena tidak terawat. Ini membuat pengunjung kecewa.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi Bali menganggarkan dana promosi pariwisata Bali sekitar Rp 1,1 miliar. Jumlah ini menurun daripada tahun 2013 yang sebesar Rp 1,5 miliar.

Meskipun begitu, kata Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali Ida Bagus Subhiksu di Denpasar, Senin, pihaknya tetap akan menggencarkan promosi pariwisata Bali, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.