Kirab Ritual Dewa Bumi Bisa Genjot Pariwisata Solo

nagaPelatihan Pariwisata | Diklat Pariwisata –warga Tiongkok di Solo, Jawa Tengah, menggelar kirab untuk memeringati hari ulang tahun “Dewa Bumi” atau “Kongco Hok Tik Cing Sien”. Dominasi khas warna merah, serta ornamen bertuliskan huruf China, menambah Kemeriahaan acara yang selalu digelar setahun sekali ini. Berbagai kesenian ?termasuk  liong dan barongsai ikut ditampilkan dalam kirab yang secara resmi dibuka Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo. Selain sajian budaya, serta penampilan menakjubkan dari tiga liong dan enam barongsai, dalam kirab itu juga diarak patung dewa bumi lengkap dengan ornamen kebangsawan kaum Tionghoa. Bagi warga keturunan, mereka meyakini bila dewa bumi ini sebagai dewa pelindung.

Empat patung dewa bumi dengan berbagai ukuran, diiringi musik khas dari daratan China ditandu secara beramai-ramai menelusuri sepanjang kota Solo, mulai dari Klenteng Tien Kok Sie ?yang terletak dekat Pasar Gede, Jalan Jenderal Sudirman, Ronggowarsito.  Kemudian melintasi kawasan Keprabon, serta berhenti sejenak di klenteng Coyudan sebelum kembali lagi ke klenteng pasar gede melewati jalan Slamet Riyadi.

Selain empat patung dewa bumi, beragam simbol dewa lainnya pun ikut diarak. Tak ketinggalan, satu buah gunung berukuran besar yang berisi hasil-hasil pertanian dan rempah-rempah., termasuk berbagai sesaji khusus berupa kue Tiong Ciu Pia atau kue bulan.

Seperti halnya patung dewa bumi serta simbol-simbol dewa, gunungan berisi hasil-hasil pertanian serta rempah-rempah inipun diarak. Saat arak-arak ini, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo-pun memberikan angpao kepada barongsai yang mendekatinya.

Seperti halnya warga Jawa, bagi warga Tionghua peringatan ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas karunia alam yang telah memberikan tanah yang subur. Sehingga sudah selayaknya mereka membalasnya dengan ikut merawat bumi seperti halnya warga Jawa menggelar  ruwatan atau sedekah bumi bagi orang jawa.

Sementara itu, Wali Kota Solo FX Hadi Rudyatmo mengaku sangat mendukung tradisi ini. Selain ikut melestarikan tradisi masyarakat Tionghua, tradisi dewa bumi inipun diharapkan mampu mendongkrak pariwisata kota Solo.

“Apalagi kota Solo Inikan kota jasa, budaya dan pariwisata. Sehingga dengan kirab ini, ikut mendongkat pariwisata Kota Solo,”papar Rudy disela kirab, di Solo, Jawa Tengah, Minggu (7/9/2014).

Diakhir kirab, satu buah gunungan yang juga ikut dikirab, dibagikan kepada warga masyarakat. Dalam sekejap, gunungan tersebut ludes diserbu warga yang sudah menantikannya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.