Libur dan Industri Pariwisata Kita

Pelatihan Pariwisata-Wisata adalah kebutuhan dasar setiap manusia yang tidak mengenal strata sosial, tingkat ekonomi, usia, dan pendidikan. Setiap orang pasti senang berwisata, melancong ke tempat yang belum pernah dikunjungi, menikmati pemandangan indah dan mencoba hal-hal yang baru. Seperti petualangan dengan arung jeram, menyelam maupun makan makanan tradisonal yang unik dan khas daerah setempat dan lain sebagainya.Manusia membutuhkan wisata untuk refreshing atau penyegaran dari kejenuhan rutinitas sehari-hari. Daerah tujuannya tentu saja disesuaikan kemampuan finansial. Bagi yang mampu tentu saja dapat berwisata ke mana pun di belahan dunia ini. Bagi yang tidak mampu, sekadar pergi ke pantai atau piknik ke taman-taman kota membawa keluarga sudah cukup untuk melepas penat dan letih.

Di Australia, pemerintahnya mendorong dan menganjurkan warganya untuk berwisata ke luar negeri minimal sekali setahun. Hal ini dilakukan dengan memberikan insentif berupa tax return dari income tax (pengembalian oleh negara sebagian dari pajak penghasilan yang dibayarkan oleh warga negaranya).

Penduduk dengan pendapatan di level terendah (pelayan, petugas kebersihan, dan sebagainya) saja, mendapat tax return atau pengembalian dari pajak penghasilan yang telah dibayarkan dengan jumlah minimal berkisar AUS$ 2.000 ” 3.000 per tahun karena jumlah pendapatan/tahun sampai AUS$ 18.200 tidak terkena pajak. Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk berlibur minimal ke Bali bagi penduduk Australia. Insentif ini diberikan Pemerintah Australia setahun sekali jelang masa liburan untuk memotivasi warganya.

Penulis yang menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) jurusan pariwisata di Australia dan sempat bekerja beberapa tahun di hotel dan Casino di sana sebagai waiter dan bartender, pernah merasakan mendapat tax return tersebut setiap tahunnya. Penulis gunakan untuk berlibur baik ke Indonesia dan atau ke negara-negara lainnya.

Kebijakan tax return ini pernah penulis tanyakan kepada seorang teman warga negara Australia yang bekerja untuk Pemerintah Negara Bagian New South Wales. Yang bersangkutan menjelaskan bahwa Pemerintah Australia sangat menganjurkan warga negaranya menggunakan insentif tersebut untuk berlibur, karena setelah berlibur mereka akan kembali fresh.

Selain akan meningkatkan produktivitas dan menurunkan stress level, juga membuat mereka lebih sehat dan bugar sehingga pada akhirnya menghemat anggaran pemerintah untuk subsidi health care atau layanan kesehatan.

Di Indonesia, pemerintah pusat juga acap kali membuat kebijakan libur bersama untuk Aparat Sipil Negara (ASN) yang disambung libur hari-hari besar keagamaan, seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal dan Tahun Baru.

Misalnya apabila tanggal merah jatuh pada hari Rabu dan Kamis, maka hari Senin dan Selasanya ditetapkan sebagai hari libur bersama. Walau kebijakan ini masih menimbulkan perdebatan di tengah-tengah masyarakat tentang dampak negatif yang ditimbulkan seperti terganggunya pelayanan masyarakat, menurunnya produktivitas, banyaknya pegawai bolos dan lain sebagainya. Namu tidak bisa dipungkiri libur bersama ini membawa dampak amat dahsyat bagi pariwisata, khususnya wisata domestik.

Pada libur bersama tersebut, khususnya libur Hari Raya Idul Fitri, terjadi lonjakan sangat signifikan pada jumlah penumpang berbagai moda transportasi komersial, seperti pesawat udara dan kereta api maupun arus penumpang yang menggunakan kendaraan pribadi, dengan tujuan pulang ke kampung halaman untuk berlebaran maupun berlibur ke daerah-daerah tujuan wisata.

Berbagai stasiun televisi pun berlomba-lomba menyajikan tayangan laporan live macet panjang dan antrean kendaraan yang hendak mudik dan menuju destinasi pariwisata di berbagai daerah di tanah air.

Hirukpikuk antrean penumpang di berbagai bandara, stasiun kereta api dan terminal bus juga tak luput dari sorotan kamera.

Bagi kita yang tinggal di Sumatera Barat dapat kita lihat beberapa hari jelang Idul Fitri banyak berseliweran mobil-mobil berpelat nomor dari luar kota, urang rantau yang akan berlebaran di kampung halaman.

Dapat kita rasakan jalan-jalan makin macet dan hampir semua sentra kuliner ramai disesaki pengunjung ketika waktu berbuka puasa tiba.

Tak hanya pengusaha kuliner, penjual suvenir, makanan ringan tradisional, penjahit, dan kue-kue khas Lebaran ramai dibanjiri pesanan. Juru parkir di objek-objek wisata pun menikmati lonjakan pendapatan yang signifikan. Multiplier effect atau dampak positifnya amat dahsyat. Diperkirakan puluhan triliun rupiah perputaran uang pada masa libur Idul Fitri tersebut. Momentum inilah yang harus dipertahankan oleh kita di Sumatera Barat. Bagaimana agar derasnya arus pengunjung itu tidak hanya terjadi pada momen Idul Fitri atau hari-hari libur nasional saja. Ini bisa dimulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan manfaat yang bisa diraih dari industri pariwisata.

Ambil contoh saudara-saudara kita di Bali yang sudah sangat menyadari manfaat yang bisa diperoleh dari industri pariwisata. Mereka sudah “sadar wisata”, yaitu individu maupun kelompok, baik yang terorganisir maupun tidak, berupaya menciptakan kondisi nyaman dan pelayanan maksimal kepada setiap wisatawan.

Upaya tersebut bagi para pelaku pariwisata yang terlibat dan berhubungan langsung dengan wisatawan adalah, bersikap ramah-tamah dengan tulus, menjaga kualitas services dan products yang disajikan untuk wisatawan.

Bagi masyarakat yang tidak terlibat langsung, cukup bersikap sebagaimana layaknya tuan rumah yang baik terhadap tamu-tamunya yang datang. Memperlakukan mereka sebaik mungkin agar mau berlama-lama berkunjung dan ingin datang lagi di masa datang serta mempromosikan daerah kita kepada kenalan mereka.

Cobalah kita berlaku tidak sopan atau berbuat onar di luar kepatutan di objek wisata Bali, pasti masyarakat setempat akan segera menegur kita dengan sopan. Apabila tidak digubris mereka pun tidak akan bersikap kasar kepada yang berbuat onar, melainkan memanggil aparat keamanan untuk menindaklanjutinya.

Mereka sadar dan tidak mau suasana objek wisata menjadi tidak aman dan tidak nyaman bagi pengunjung lainnya serta merusak imejdan membuat mereka enggan berkunjung lagi.

Itulah bentuk kepedulian yang harus kita ciptakan di Sumatera Barat. Masyarakat turut menciptakan kondisi yang kondusif bagi wisatawan. Karena kita sudah dikaruniai Tuhan Yang Maha Esa dengan daya tarik wisata seperti alam yang indah, tradisi dan seni budaya mempesona, kuliner yang lezat dan lain sebagainya. Hanya tinggal menjaganya saja agar manfaat dari industri pariwisata terus dapat kita nikmati. Masak kita tidak bisa? (Hendri Agung Idris)

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.