Logika pengelolaan sampah dalam pariwisata

Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat adalah pintu ke kawasan wisata Komodo yang termasuk 88 Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Sebagai salah satu situs pariwisata andalan yang telah menjadi tujuan wisata global, pintu masuk itu semestinya ditata menarik, namun pada beberapa bagian Labuan Bajo ternyata tak mempunyai fasilitas selengkap sebuah destinasi wisata utama. Mengutip Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula, pintu pariwisata eksotis nasional ini malah tidak memiliki satu pun rumah sakit, sementara pelabuhan besar urung dibangun, sedangkan koneksi internet yang wajib massif di wilayah wisata masih tersendat.

Yang juga memprihatinkan adalah kebersihan wilayah ini. Sampah menseraki pantai. Ini jelas mengkhawatirkan bagi daerah wisata yang umumnya menyaratkan kebersihan sebagai salah satu daya tarik kunjungan.

Keadaan ini diprihatinkan semua kalangan, termasuk Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kementerian ini bahkan menggelar seremoni bersih-bersih pantai demi menekankan arti penting bersih lingkungan dalam perspektit pariwisata, ekonomi dan lingkungan, lewat acara bertajuk Gerakan Indonesia Bersih di pantai Pede, Labuan Bajo, awal pekan ini.

“Halaman yang indah adalah asset ekonomi,” kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Pangestu kepada para petinggi dan masyarakat daerah itu dalam acara yang juga dihadiri Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya tersebut.

Bagi warga Labuan Bajo ini adalah acara kedua setelah Sail Komodo September 2013 yang diharapkan membangkitkan optimisme warga untuk terus bersihnya kota mereka.  Faktanya, seremoni-seremoni seperti itu acap tak bergaung lama atau tak berketerusan.

Untuk itulah mungkin Mari Pangestu menekankan perlunya kontinuitas dengan berkata, “Kalau kita peduli kebersihan, maka bersih-bersihnya tidak hanya sekali. Bersih dan nyaman berkaitan dengan tamu atau wisatawan, selain juga demi sanitasi dan kesehatan keluarga serta lingkungan.”

Masalahnya perlakuan masyarakat pada sampah di Labuan Bajo agak lain, seolah tidak peduli. Mungkin ini berkaitan dengan karakter dan budaya setempat.

Untuk itu sejumlah kalangan menilai pengelolaan sampah di daerah ini berkaitan dengan mengubah cara pandang masyarakat yang sifatnya evolusioner sehingga membutuhkan waktu agak lama.

“Mengubah prilaku itu membutuhkan proses,” kata Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya.

Rasanya terhina sekali

Frans yang pernah menyebut Labuan Bajo daerah dengan tingkat kekotoran tinggi di provinsinya ini menekankan bahwa bersih lingkungan berkaitan dengan masuknya wisatawan asing.

“Jika NTT tidak bersih dan indah maka tidak ada wisatawan yang mau datang,” kata Frans berusaha meyakinkan masyarakat.

Pemerintah daerah Manggarai Barat sendiri mempunyai program menarik dalam mengampanyekan hidup bersih tanpa sampah lewat aksi bersih-bersih setiap Jumat oleh para PNS. Cuma, inisiatif ini kerap membuat masyarakat salah mengartikan, seolah mereka tak terikat dengan inisiatif pemerintah itu.

“Di sini ada pandangan bahwa sampah adalah urusan PNS dan pemerintah. Ini salah, sampah adalah urusan masyarakat,” kata agamawan yang juga tokoh masyarakat Labuan Bajo, Pater Marcel Agot.

Mungkin karena pandangan awam itu pula sistem pengelolaan sampah di Labuan Bajo agak aneh. Bayangkan, untuk daerah setingkat kabupaten seperti Labuan Bajo, hanya tersedia dua truk sampah.  Padahal Bejawa yang juga terletak di Flores dan bukan destinasi wisata utama, memiliki 15 truk sampah.

Kondisi itu diperparah oleh pandangan masyarakat sendiri tentang sampah yang membuat tak banyak orang di daerah ini yang bersedia bekerja mengelola sampah.

“Bagi kita di Flores, kerja di tempat sampah itu rasanya terhina sekali,” kata pegiat lingkungan dan usahawan sampah, Robert Kennedy Diaz.

Robert sendiri punya pandangan bahwa yang kotor-kotor seperti sampah bisa menghasilkan uang dan mensejahterakan kehidupan.  Dia kini berhasil menarik rekan-rekan sekampungnya berbisnis daur ulang sampah.

Usaha Robert itu bergandengan dengan bisnis serupa yang digeluti Thomas “Tos” Ampu.  Aktivis lingkungan dan seniman lokal berusia 45 tahun ini terbilang sukses dalam memperlakukan sampah menjadi barang bernilai ekonomi tinggi.

“Saya sekarang rutin ‘mengekspor’ sampah ke Jawa,” kata sarjana ekonomi lulusan salah satu perguruan tinggi Yogyakarta yang sempat berkuliah seni di kota yang sama ini, tentang sampah-sampah plastik dan yang bisa didaur ulang yang dikirimnya ke Surabaya setiap bulan lewat kapal laut.

Tak itu saja, Tos juga aktif menggiring anak-anak berbagai tingkatan untuk mengumpulkan sampah. Dari kegiatan itu dia bisa mengembangkan kelompok muda pecinta seni dan lingkungan.

Merekalah yang menjadi otak di balik artistik panggung ketika Gerakan Indonesia Bersih dicanangkan Mari Pangestu di Pantai Pede, Labuan Bajo, itu.

Karena daerah wisata

Di samping Tos, masih ada pegiat lingkungan dan seni yang punya nama nasional, Andi Tenri Lebbi.

Direktur Yayasan i-Productions ini aktif mempromosikan kehidupan sehat dan peduli seni di Labuan Bajo. Dia aktif berkarya seni, termasuk mendorong orang-orang bekreasi bahkan dengan pola daur ulang sampah sekalipun.

Dia menularkan keahlian seninya kepada anak-anak usia sekolah, selain para guru di Labuan Bajo.

Andi yang pernah manggung dalam pentas musik “I La Galigo” arahan sutradara seni panggung dan dramawan Robert Wilsons dari Amerika Serikat itu mengaku terpanggil memberdayakan seni budaya dan mengasrikan Labuan Bajo.

“Karena ini adalah daerah pariwisata,” kata ibu satu anak yang menyukai seni teater sejak masa kecil itu.

Andi kerap membawa anak-anak asuhnya ke Jakarta untuk merasakan atmosfer seni demi memacu sang anak untuk berkreasi lebih.

“Kami sudah mendapat 21 piala, hanya dari empat anak,” kata Andi.

Kewirausahaan dan kecintaan Andi pada seni serta pemberdayaan masyarakatnya ini menarik perhatian Mari Pangestu yang memang dikenal seorang antusias seni dan budaya.

Setengah berseloroh, Mari bahkan bertanya kepada Bupati Manggarai Barat apakah orang sekreatif Andi Tenri Lebbi bisa mendapatkan dukungan dan fasilitasi pemerintah daerah.

Sebuah permintaan wajar karena orang-orang seperti Andi, Tos Ampu dan Robert Diaz, justru besar perannya dalam menberdayakan lingkungan, sosial, dan budaya.

Mereka turut mengubah paradigma berpariwisata. Mereka turut membantu daerahnya menjadi makin menarik dan bernilai tambah. Lagi pula, pariwisata tak hanya soal objek, tontonan dan layanan, namun juga peran para kreatif seperti Andi dan Tos.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.