Parangtritis, Pemerataan Pariwisata, dan Jogja Tourism Training Center

JTTC-Selama libur lebaran kemarin, Pantai Parangtritis masih menjadi primadona wisatawan. Menurut Koordinator Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Induk Pantai Parangtrirtis, Rahmad Ridwanto, dilansir dari ANTARA, pengunjung obyek wisata yang terletak di pesisir selatan Kabupaten Bantul tersebut berjumlah 145.118 orang. Itu dihitung sejak hari pertama hingga hari ke lima libur Idul Fitri 1443 Hijriah. Pada hari H Lebaran (2/4), jumlah pengunjung adalah 7.575 orang. Kemudian hari Selasa, 25.870 orang. Hari Rabu berjumlah 29.900 orang. Hari Kamis 35.905 wisatawan. Hari Jumat 26.196 wisatawan. Dan hari Sabtu sebanyak 19.699 wisatawan. Begitu penjelasan Rahmad. Masih menurut Rahmad, wisatawan yang berkunjung ke kawasan Pantai Parangtrirtis meliputi Gumuk Pasir, Pantai Parangkusumo, dan Pantai Depok. Para wistawan tersebut berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan luar daerah. Guna memaksimalkan pelayanan penarikan retribusi wisata atau karcis masuk Parangtritis, Pemerintah Kabupaten Bantul menerjunkan 35 orang petugas. Para petugas tersebut dibantu oleh TNI/Polri, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan yang melakukan pengaturan manual di TPR untuk mengurangi kemacetan kendaraan wisatawan. Tercatat ada sekitar 280 destinasi wisata di Kabupaten Bantul. Destinasi-destinasi wisata tersebut tersebar di 17 kecamatan. Namun pada libur lebaran ini, menurut Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, pihaknya lebih berfokus pada pengendalian 8 objek wisata khususnya pantai karena menjadi tujuan favorit. Momen ini mengingatkan pada salah satu bahasan yang pernah dilakukan oleh Jogja Tourism Training Center. Dilansir dari tulisan “Pariwisata DIY Masih Butuh Pemerataan” di laman (https://pelatihanpariwisata.com/), dijelaskan bahwa wisatawan yang datang ke DIY belum merata. Dalam tulisan itu, disebutkan bahwa rata-rata wisatawan masih terkonsentrasi di tiga kabupaten/kota saja, yaitu Sleman, Yogyakarta, dan Gunungkidul. Sehingga pengembangan destinasi wisata di wilayah Kulonprogo dan Bantul akan digenjot terus. Kemudian, di Bantul wisatawan masih terpusat di Pantai Parangtritis dan Depok. Padahal, banyak potensi wisata namun belum dikelola secara maksimal. Misalnya atraksi wisata susur goa. Hal tersebut bisa dikembangkan seperti yang sudah mulai tren di wilayah Gunungkidul. Pengembangan-pengembangan tersebut bisa dilakukan melalui pelatihan-pelatihan pariwisata. Seperti yang dilakukan oleh JTTC, sebagai sebuah lembaga pengembangan sumber daya manusia pariwisata berkompeten yang telah dipercaya oleh dinas dan instansi terkait di Indonesia. Sehingga, pemerataan pariwisata di Bantul khususnya, dan DIY pada umumnya bisa tercapai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.