Pencabutan Jam Malam Cerahkan Pariwisata Thailand

Pelatihan Pariwisata | Diklat Pariwisata-Pencabutan jam malam di Thailand kemungkinan akan mendongkrak industri pariwisata domestik yang sempat terganggu. Namun, butuh waktu untuk menarik pelancong asing yang menghindari Thailand menyusul kekisruhan politik yang berlangsung selama berbulan-bulan. Maskapai Thai Airways International pada Jumat mengatakan faktor muat penumpang Mei dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu turun dari 66,4% menjadi 59,8%. Demonstrasi Mei terus mempengaruhi keputusan turis untuk mengunjungi Thailand dan memicu sejumlah pemerintahan untuk mengeluarkan larangan berkunjung ke negeri tersebut. Setelah junta militer mencabut jam malam pada 13 Juni, outlook perjalanan terlihat membaik. Kementerian Luar Negeri Thailand mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa setelah jam malam dicabut pada 13 Juni, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Spanyol menurunkan level peringatan dari “hindari bepergian untuk hal tak penting” menjadi “hati-hati”.

Sebanyak 26,7 juta wisatawan mengunjungi Thailand pada 2014 dan menyumbang 1,17 triliun baht ($36,05 miliar) kepada perekonomian setempat. Pada awal 2014, Otoritas Pariwisata Thailand menaksir bahwa 26,3 juta pelancong akan mengunjungi Thailand pada 2014 dan menghabiskan 1,24 triliun baht ($38,2 miliar).

Akibat kekacauan politik, angka itu dikurangi menjadi 25 juta.

Industri pariwisata–yang berkontribusi sebesar 9% kepada produk domestik bruto negara–mendapat pukulan telak dari kelimbungan politik dalam negeri serta penerapan jam malam menyusul kudeta 22 Mei.

Dalam lima bulan pertama tahun ini, sektor pariwisata membukukan penurunan penerimaan sebesar 3,91% year-on-year menjadi 75,99 miliar baht, demikian data Departemen Pariwisata.

Pada pekan-pekan pemberlakuan jam malam, sejumlah hotel dan restoran harus menelan pil pahit. Suwanich Kanjanakunya, direktur Eastin Grand Hotel, Bangkok, mengatakan penerimaan dari segmen makanan dan minuman anjlok 40%, sementara tingkat hunian turun 30%.

Peringatan perjalanan dari sejumlah negara masih berlaku. Artinya, junta militer masih harus menjamin keselamatan pelancong internasional, ujar Ben Montgomery, anggota komite Dewan Pariwisata Thailand.

Walau pencabutan jam malam takkan kembali menarik pengunjung dalam waktu dekat, Suwanich mengatakan sejumlah perkembangan berhasil direkam.

“Kembalinya wisatawan mancanegara belum terlihat. Pasalnya, para pelancong biasanya butuh satu atau dua pekan untuk merencanakan [perjalanan],” ujarnya. “Namun, kami telah mulai menerima pemesanan kamar untuk bulan Juli dan Agustus setelah jam malam dicabut.”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.