Sarana Venue MICE Mampu Dorong Sektor Pariwisata

soho venueKementerian Pariwisata Republik Indonesia telah menandatangani kesepakatan strategi pengembangan destinasi Meeting Incentive Conference Exhibition (MICE) di Indonesia dan ada sembilan pilar yang disepakati oleh pihak akademia, wakil pemerintah, kalangan pengusaha dari industri MICE, serta sekolah-sekolah tinggi pariwisata.Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Wisata Alam dan Buatan Kemenpar, Aswir Malaon mengungkapkan, sembilan pilar tersebut nantinya akan dikembangkan di tiga lokasi potensial pariwisata di Indonesia yakni, Yogyakarta, Makassar, dan Bali.“Kami akan mengerahkan seluruh pengalaman dan pengetahuan mengembangkan destinasi MICE ini. Pertama kami akan kembangkan di Bali karena pemain industri MICE paling handal ada di Bali dan kami ingin mendapatkan input atau masukan dari para pelaku yang berdomisili di daerah tersebut,” ujarnya, Kami (30/7/2015).

Salah satu dari sembilan pilar yang dibahas adalah venue di Indonesia yang masih terbilang sedikit, padahal potensi dalam bidang ini sangat besar, lanjutnya.

“Seperti di Jakarta ada JCC, di Bali ada BNDCC, kami juga berharap di daerah lain memiliki venue yang sama. Nantinya, kami pun akan membicarakan standar dari sebuah venue sehingga kami memiliki standar yang sudah diakui paling tidak untuk kawasan Asean,” ujarnya.

Menurutnya, keberadaan venue sekelas convention center bisa meningkatkan kunjungan wisatawan jika dibandingkan dengan aula yang disediakan oleh hotel.

Ketua Komite Tetap Bidang Pertemuan dan Konvensi Kamar Dagang Indonesia (Kadin), Wisnu Budi Sulaiman mengatakan, market segmen yang disasar MICE sangat berbeda dengan leisure tourism. MICE tidak digolongkan pada industri pariwisata tapi merupakan bisnis, sehingga treatmentnya juga berbeda karena customernya pun berbeda.

“Satu lagi yang menarik di MICE adalah kami bisa hitung kalau kami mau ada sebuah conference. Berbeda dengan leisure tourism yang tidak mengetahui kemana saja dia akan berwisata. Kalau wisatawan conventioner, kami sudah bisa mengetahui berapa banyak hotel yang akan mereka pakai, jumlah kamarnya, berapa hari mereka akan menghabiskan waktunya itu sudah bisa langsung dikalkulasi dan itu bisa diprediksi sebelumnya,” jelasnya.

Dia menyatakan, saat ini kebetulan Asean memiliki pemikiran yang sama tentang standar sebuah venue dan Indonesia beserta negara Asean yang lain itu diundang untuk menetapkan standar sebuah venue.

“Kalau sudah memiliki venue yang memenuhi standar Asean, jika ada konferensi dunia, negara kita bisa secara otomatis menjadi tuan rumah,” imbuhnya.

Dia berharap bahwa bisa segera merapikan semua yang belum sempat dikerjakan, apalagi kesiapan menghadapi MEA yang menjadi tantangan tambahan pemerintah maupun masyarakat sehingga standar tentang venue conference ini dirasa perlu ditetapkan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.