Sederet Terobosan Kebijakan untuk Pulihkan Pariwisata RI

Sederet Terobosan Kebijakan untuk Pulihkan Pariwisata RI

Pelatihan Pariwisata – Tahun 2021 dipercaya sebagai tahun penuh harapan dalam upaya pemulihan pariwisata Global. Hal ini bisa terlihat pasca ditemukannya vaksin covid 19, negara-negara yang pendapatannya bergantung dari sektor pariwisata mulai mengeluarkan kebijakan yang memberikan kelonggaran bagi para wisatawan untuk melakukan perjalanan dalam ataupun luar negeri.

Sejumlah negara itu, sebut Estonia, Islandia, Siprus , Seychelles dan Rumania. Mereka, telah membuka pintu bagi wisatawan yang telah di vaksin Covid-19 untuk berlibur ke negaranya tanpa karantina.

Dengan kata lain “Vaksin Pariwisata“ itu ada pada kekuatan implementasi dan konsistensi dalam mentaati protokol di destinasi wisata.

Lain halnya dengan negara tetangga kita, Singapura yang dinobatkan oleh Konsorsium perusahaan investasi internasional, Deep Knowledge Group sebagai negara nomor empat paling aman dari pandemi dalam rilis daftar terbaru 100 negara yang dianggap aman dari pandemi Covid-19. Singapura berada setelah Swiss, Jerman dan Israel. Sedang Indonesia, masih berada pada urutan ke 97.

“Hasil ini diperoleh Singapura setelah negara tersebut melalui Singapore Tourism Board (STB) terus melakukan terobosan kebijakan demi mempercepat pemulihan pariwisatanya,” sebut Founder Temannya Wisatawan, Taufan Rahmadi melalui keterangan tertulis kepada Tagar, Selasa, 9 Februari 2021.

Menurut Penulis Buku Protokol Destinasi ini, setidaknya ada 6 kebijakan utama yang dilakukan Singapura. Pertama, pembukaan kembali bisnis Pariwisata dengan menerapkan SMM (Safe Management Measures). Kedua, Program sertifikasi SG Clean Quality Mark bagi para pelaku industri pariwisata. Ketiga, Program MPP ( Marketing Partnership Programe ) senilai 20 Juta dolar Singapura untuk mendukung upaya pemasaran bisnis pariwisata.

Keempat, Program Singapore Stories Content Fund (SGSCF) yang bertujuan untuk mendorong pembuat konten membuat cerita menarik tentang Singapura. Kelima, dukungan berupa dana dalam bentuk Business Improvement Fund (BIF) dan skema TIP-iT untuk memberi kesempatan bisnis pariwisata berinovasi dan beradaptasi. Keenam, program transformasi teknologi pariwisata dalam bentuk Tourism Transformation Index (TXI) dan Singapore Tourism Analytics Network (Stan).

Pemerintah Indonesia, dapat menjadikan negara–negara diatas sebagai salah satu referensi dalam upayanya mempercepat pemulihan sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) secara nasional.

Tercatat hingga saat ini, ada 25 program yang sebagian tengah dan terus diprogres pelaksanaannya sebagai bentuk langkah nyata di dalam menjawab tantangan pandemik di tahun 2021 ini.

Seperti, dana hibah pariwisata yang diperluas peruntukannya (tidak hanya untuk hotel dan restoran saja), GeNose C19 untuk destinasi wisata prioritas, prioritas pemberian Vaksin untuk pelaku pariwisata, menuntaskan permasalahan toilet bersih dengan membentuk satgas toilet Indonesia dan berencana memberikan visa jangka panjang untuk wisatawan asing dengan syarat deposit Rp 2 miliar.

Lalu, mengeluarkan kebijakan travel buble antara Indonesia dengan negara asal wisman seperti Malaysia, Menghadirkan permainan digital dengan mengadosi Pokemon Go di desa wisata, menyiapkan paket penyelamatan pariwisata di Bali berupa stimulus senilai Rp13,2 triliun dan memberikan paket pinjaman lunak bagi para pengusaha hotel.

Kemudian menjadikan desa wisata menjadi destinasi digital nomad, menargetkan 32jt pekerja parekraf di tahun 2024, menjadika SDM pariwisata berstandar global, targetkan lapangan kerja sektor wisata naik 3-4 persen, menghadirkan wisata pendidikan di Bali, Merencanakan program Free Covid Coridor (FCC) di Bali dan memastikan MotoGP Mandalika siap digelar.

Selanjutnya, menjaga transparansi keuangan dan anggaran, Koneksi signal di DSP super kencang, menjadikan pelaku UMKM di Mandalika naik kelas, Membuat program unggulan “bedakan” tentang hibah desain kemasan kuliner nusantara, juga melakukan program inkubasi pendampingan pelaku kriya, mode dan kuliner.

Selanjutnya ada juga Program “aksilarasi”, program untuk mempercepat ekraf di DSP, menargetkan 244 desa wisata maju dan mandiri di tahun 2024, mengembangkan wisata religi di Tosora Kab.Wajo serta menargetkan 26 desa wisata dengan sertifikasi berkelanjutan di tahun 2021.

Ke-25 program diatas selain patut untuk diberikan apresiasi sebagai bentuk keseriusan pemerintah di dalam mengatasi krisis pandemi saat ini, juga tentunya memberikan ruang terbuka untuk terus diawasi, dilakukan perbaikan dan penguatan dengan menyerap masukan dari para pelaku industri pariwisata dan masyarakat untuk bersama berkolaborasi di dalam menemukan formulasi yang tepat dan cepat dalam implementasinya.

Pengamat dan Praktisi Pariwisata sekaligus Founder Temannya Wisatawan Taufan Rahmadi. (Foto:Tagar/TR)
Taufan Rahmadi juga menyarankan, untuk mempercepat implementasi dari 25 program diatas, penting bagi pemerintah untuk mempertimbangkan 5 Quick Win Pemulihan Pariwisata Indonesia, yakni:

1. Mendorong Segera dibentuknya Komite Pemulihan Pariwisata Nasional yang tugas utamanya adalah melakukan pendampingan, pengawasan dan merumuskan langkah-langkah strategis dalam mempercepat pemulihan Pariwisata.

2. Memastikan pembentukan BUMN Pariwisata dapat secara nyata bermanfaat bagi pemulihan pariwisata

3. Kebijakan Dana Hibah Pariwisata yang peruntukannya diperluas ( tidak hanya untuk Hotel dan Restaurant ) harus dipercepat realisasinya.

4. Terus melakukan diplomasi terkait kebijakan Travel Bubble dengan negara – negara tetangga Indonesia yang selama ini menjadi originasi wisatawan mancanegara.

5. Membentuk Rumah Kolaborasi Pariwisata di setiap 5 destinasi pariwisata prioritas, untuk menyatukan semua stakeholder baik daerah ataupun pusat guna bersatu di dalam bekerjasama mempercepat tuntasnya pengembangan di destinasi.

Taufan Rahmadi menegaskan, bahwa pada akhirnya, prestasi pemerintah di dalam mempercepat pemulihan pariwisata saat ini adalah sangat tergantung dari sinergi segenap komponen bangsa untuk bersatupadu menghadapinya.

“Dengan kata lain “Vaksin Pariwisata“ itu ada pada kekuatan implementasi dan konsistensi dalam mentaati protokol di destinasi wisata,” tutupnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.